Muda dan masih berapi-api mencari uang, begitulah gambaran anak muda
pertengahan 20-an sekarang. Tapi jangan salah, semangat kerja mereka
yang luar biasa juga disaingi dengan semangat membelanjakan uang yang
luar biasa. Seakan-akan karena kerjanya hari ini, uangnya juga harus
dihabisin hari ini. Padahal, jauh di dalam hati mereka sadar kalau
mereka bakal membutuhkan jauh lebih banyak uang di masa depan.
Mungkin kamu juga termasuk para anak muda yang tahu pentingnya untuk
mulai hati-hati soal uang. Tapi tetap aja, kamu menyangkal dan terus
menyangkal kenyataan tersebut. Dengan membohongi diri sendiri, kamu
merasa tenang dan nyaman. Padahal, tanpa sadar kamu telah menghalangi
jalanmu sendiri untuk mencapai kemerdekaan finansial.
Berikut ini adalah kebohongan finansial yang harus berhenti kamu
katakan ke diri sendiri. Sudah nggak zamannya lagi kamu kecanduan pada
rasa tenang dan nyaman yang nggak riil. Ayo bangun!
1. “Aku masih muda, baru aja mulai jadi karyawan. Buat apa udah jauh-jauh mikir pensiun?”
Kodrat jiwa muda memang sepertinya jumawa: menggebu-gebu bekerja
tanpa memikirkan hari tua. Memang benar bahwa kamu cinta pekerjaanmu,
dan pikiran tentang pensiun belum memasuki pikiranmu. Kamu mau kerja
hingga umur 70 tahun, kira-kira hingga setengah abad lagi. Buat apa sih
jauh-jauh memikirkan pensiun?
Kenyataannya, menyiapkan dana pensiun sejak dini adalah salah satu
keputusan finansial paling cerdas yang bisa kamu ambil. Sebagai
pensiunan, kesehatanmu tak akan seprima sekarang. Di tahun 2014
saja seseorang bisa menghabiskan ratusan ribu hingga jutaan rupiah hanya
untuk sekali
check-up kesehatan. Di tahun 2054 nominal ini bisa jauh lebih tinggi karena inflasi.
Tambah lagi, jika kamu hidup sampai umur 80 tahun sementara kamu
hanya menjadi karyawan hingga umur 55, kamu harus membiayai 25 tahun
hidupmu sebagai
pengangguran pensiunan. Jumlah dana pensiunan
pegawai BUMN atau PNS juga tak seberapa, tak akan cukup membiayai
hidupmu kecuali kamu mau hidup dengan jauh lebih sederhana. Kalau kamu
tak mulai menabung dari sekarang, mau dapat uang darimana?
Buatlah tabungan dana pensiun pribadi, bahkan kalau perusahaan
tempatmu bekerja sekarang sudah menyiapkan dana pensiun untukmu nanti.
Program dana pensiun yang disediakan perusahaan asuransi jiwa (PAJ) atau
berbagai bank adalah alternatif yang baik untuk membuatmu bisa
menikmati masa tua dengan nyaman. Jangan bikin dirimu di masa depan
menjadi tragis hanya karena kamu yang sekarang enggan menyiapkan
tabungan untuk masa tua.
2. “Aku bakal menyisihkan uang untuk menabung, kok… Mulai besok.”
Sayangnya, rencana untuk besok ini gak pernah terealisasikan. Yang
kamu lakukan tiap hari adalah menunda setelah menunda untuk menabung.
“Nantilah, aku mulai menabung setelah (menikah, dapat promosi, serta alasan-alasan lain)” Tercapai
atau tidaknya targetmu, pasti akan selalu ada alasan yang menghalangi
untuk berniat menabung. Jangankan menyisihkan uang, sisa gaji pun selalu
habis.
Untuk membiasakan diri menabung, paksakan dirimu untuk berpikir bahwa
menabung adalah kewajiban. Menabung adalah hutang yang harus kamu bayar
untuk diri sendiri, yang manfaatnya baru bisa di rasakan pada masa
depan. Aktifkan fitur transfer otomatis dari rekening penerima gaji ke
rekening khusus untuk tabungan. Perintahkan bank untuk mentransfer Rp.
100-200.000 tiap kali kamu menerima gaji. Dengan begitu, kamu gak akan
sadar bahwa kamu sudah punya tabungan. Dan yang terpenting, lakukan hari
ini — bukan besok.
3. “Risiko berinvestasi itu besar. Aku harus benar-benar ngerti strateginya dulu sebelum mulai investasi.”
Risiko investasi itu memang besar — itu sih bukan sebuah kebohongan. Yang menjadi kebohongan di sini adalah
“Aku pengen ngerti dulu istilah investasi, belajar dari buku. Jadi aku investasinya nanti saja.” Buktinya,
gak sekalipun kamu menyentuh buku yang tadinya mau kamu baca. Malah
kamu gak ada usaha sama sekali untuk mempelajari perihal investasi yang
sebenarnya bisa kamu tanya pada yang berpengalaman. Itu semua karena
kamu takut mengambil risiko. Jadi kamu merelakan uangmu mengendap
bertahun-tahun dalam rekening bank tanpa diputar sama sekali.
Padahal kalau takut dengan risiko besar, kamu juga bisa investasi
dengan aman. Kalau enggan bermain dengan pasar saham, lakukan
saja investasi riil, seperti emas dan properti. Kamu juga bisa berbisnis
sendiri — ada banyak
peluang bisnis yang bisa dimulai dengan Rp. 1 juta saja.
Satu hal yang harus kamu ingat bahwa inflasi terus terjadi dan
pengaruhnya nyata. Inflasi yang meningkat akan menggerus nilai uang yang
kamu simpan di bank. Meski nominal yang tertera sama, namun nilainya
sudah turun. Jika kamu mau melindungi nilai uangmu, cobalah berinvestasi
pada emas dan/atau properti.
4. “Kalau gak berencana membeli rumah atau mobil, skor kredit itu gak penting.”
Kamu selalu berkata dalam hati bahwa kamu belum berencana beli rumah
dan mobil, sehingga memperhatikan skor kredit untuk sekarang itu gak
penting. Padahal dalam hati kamu sadar bahwa sekarang skor kredit sudah
menjadi bahan pertimbangan kalau kamu mau ikutan asuransi, mengajukan
pinjaman lunak, pemeriksaan latar belakang saat melamar kerja, dan
bahkan pacar kamu bakal mulai sering bertanya apakah skor kredit kamu
bagus atau jelek.
Sebentar… atau jangan-jangan kamu belum tahu apa itu skor kredit?
Skor kredit adalah semacam nilai “raport” yang dihitung dari riwayat
hutangmu, seberapa cepat kamu melunasi pinjaman, seberapa lama dan
seberapa banyak kamu berhutang, serta jumlah dan tipe rekeningmu. Ketika
kamu ingin mengajukan pinjaman di masa depan, bank atau perusahaan
pemberi kredit akan melihat skor kreditmu ini. Semakin bagus, semakin
lebar kesempatanmu untuk mendapatkan pinjaman.
Jadi mulai sekarang jangan segan-segan untuk memeriksa dan menghitung
skor kredit kamu. Mulailah berhubungan baik dengan bank, bayar tagihan
kartu kredit tepat waktu, dan jika berhutang, jangan sampai kamu
menunggak kelamaan.
5. “Gaji pas-pasan gini, mana bisa buat nabung…”
Penghasilan per bulan kecil? Gaji gak sesuai beban pekerjaan, jadi
gak bisa nabung sama sekali? Ah, jangan bohong. Semua orang yang punya
penghasilan bisa menabung. Dari 1,000 perak hingga 10,000. Dari celengan
ke rekening bank. Dari Rp. 50 ribu hingga ratusan ribu rupiah. 5% dari
gaji sampe 20% dari gaji.
Cara manapun yang kamu pilih,
sekecil apapun jumlahnya, kamu bisa menanbung. Menabung bukan masalah
besarnya uang yang kamu terima tiap bulan, tapi besarnya penghematan
yang kamu lakukan tiap bulan.
6. “Mending beli rumah aja sekalian. Kalau ngontrak, kayaknya jauh lebih mahal.”
Eits, jangan salah. Gak selamanya membeli rumah bisa membuat kamu
berhemat. Dan gak selamanya mengontrak/menyewa rumah bikin kantong kamu
kering. Dalam situasi dan kondisi tertentu, menyewa rumah justru
akan lebih menguntungkan daripada membeli sekalian.
Misalnya, kamu cuma tinggal di kota tertentu dalam jangka pendek 1-2
tahun sebelum pindah lagi ke kota lain. Jelas lebih rasional untuk
menyewa dibandingkan membeli rumah. Selain itu, menyewa rumah juga gak
mengharuskan kamu mengurus rekening PLN, telepon, air atau internet
baru, sehingga hidupmu bisa lebih praktis. Belum lagi kalau ternyata
rumah yang disewa sudah lengkap dengan perabotan, bayangkan berapa juta
yang bisa kamu hemat. Jadi sebelum memutuskan beli rumah pertimbangkan
dulu urgensinya dengan matang.
7. “Buat apa ikut asuransi kesehatan, toh aku selama ini nggak pernah sakit.”
“Asuransi kan buat orang yang sakit-sakitan doang.”
Ckckckck… Jangan pamali,
guys. Rezeki emang bisa dicari, tapi bala gak bisa ditolak. Mungkin daya tubuhmu bagus, tapi
sh*t happens setiap
hari, bisa aja kamu jadi korban kecelakaan lalu lintas atau kekerasan
di jalan. Negara kita rawan bencana alam, lho masa lupa? Kecuali kamu
punya bola kristal yang bisa memprediksikan kapan
sh*t akan terjadi,
mending segera lindungi dirimu dengan asuransi kesehatan atau paling
nggak, jaminan kesehatan yang disediakan oleh pemerintah.
8. “Yaelah, calonnya aja belum ada. Ngapain aku nyimpan duit buat nikah?”
Wah, jangan salah. Cinta datang tiba-tiba.
Alasan paling lumrah:
“Kalau udah ada calonnya, baru nabung buat nikah” atau
“Aku gak akan menikah seumur hidup”. Menikah
atau nggak itu pilihan masing-masing, namun sekali lagi, kita tidak
tahu pilihan apa yang akan kita ambil di masa depan. Apa kamu bisa
menjamin bahwa di masa depan kamu akan setia dengan status jomblomu?
Selain itu, menabung untuk masa depan juga tak melulu harus berkaitan
dengan pernikahan. Mungkin kamu akan sekolah lagi, mungkin kamu mau
membiayai orang tua berhaji, mungkin kamu memutuskan mengadopsi anak dan
menjadi
single parent – siapa yang tahu? Yang kamu tahu adalah
kamu bisa membuat persiapan mulai dari sekarang, demi menyambut
momen-momen besar dalam hidupmu.
Kita harus sepakat di sini: kamu mesti berhenti berbohong pada dirimu
sendiri, dan mulai berpikir untuk menciptakan kestabilan finansial
untuk jangka panjang. Cuma orang berpikiran pendek yang hidup hanya
untuk hari ini. Orang bijak juga akan hidup untuk hari esok!