Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lifestyle. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Desember 2014

Hidup Tanpa Mobil, Banyak Cuti, dan Hal-Hal Lain yang Menjadikan Orang Denmark Manusia Paling Bahagia Di Dunia

Pada tahun 2013, Denmark menduduki peringkat teratas sebagai negara dengan penduduk paling bahagia di dunia. Tahun ini memang ‘kebahagiaan’ mereka telah direbut oleh Panama dan Kosta Rika dengan menggeser Denmark di posisi ketiga, namun Denmark secara reguler dan konsisten selama bertahun-tahun terkenal selalu memanjakan warganya. Mungkin kamu akan bilang, “Ya, jelas bahagia, mereka ‘kan kaya-kaya” Nggak juga. Mereka gak semakmur tetangganya Norwegia, gak sekaya Qatar dan bahkan gak bisa menyamai pendapatan per kapita orang Singapura.
Lalu apa yang membuat negara kecil berpenduduk 5,5 juta orang yang suka makan ikan herring dan kemana-mana mengayuh sepeda ini menjadi negara paling bahagia di muka bumi?


1. Di Denmark, kebahagiaan sudah diperoleh warganya jauh sebelum mereka dilahirkan. Denmark sangat pemurah dalam urusan memberikan cuti pekerjaan.



Saat wanita di Indonesia harus puas dengan kebijakan cuti melahirkan selama 3 bulan, orang tua di Denmark secara total bisa memperoleh cuti sebanyak 52 minggu, yaitu sama dengan setahun, dan gaji tetap dibayar penuh 100%. Dari 52 minggu tersebut, Ibu bisa mengambil cuti melahirkan selama 18 minggu, supaya mereka merasa nyaman menjelang dan sesudah persalinan. Kebijakan ini terbukti menekan angka kematian bayi  dan memberikan bayi kesempatan untuk memperoleh masa ASI eksklusif lebih panjang.
Dengan kata lain sebelum dilahirkan, bayi di Denmark sudah diberi kesempatan untuk menjalani hidup yang nyaman. Tidak hanya ibu, seorang pria yang istrinya melahirkan juga mendapat cuti khusus selama 2 minggu dengan gaji yang tetap dibayar penuh oleh pemerintah. Sedangkan 32 minggu jatah cuti sisanya, bisa diambil kapan aja oleh orang tua ketika dibutuhkan.


2. Sejak usia dini, bocah-bocah Denmark sudah mencicipi pendidikan murah dan berkualitas



Kebahagiaan yang dirasakan orang tua dan anak gak hanya sebatas jumlah cuti yang panjang saja, tapi berlanjut ketika anak membutuhkan pengasuh maupun pendidikan pada usia dini. Mengingat pentingnya pendidikan sejak usia dini terhadap kesehatan dan kebahagian anak hingga dewasa, semua bocah Denmark mulai dari umur 1 hingga 5 tahun berhak mendapat pengasuhan dan pendidikan murah baik dari pengasuh, penitipan anak, pra-sekolah hingga TK. Orang tua Denmark Cukup membayar 25% saja dari biaya penitipan dan pendidikan anaknya. Sisanya? Disubsidi oleh pemerintah.
Biaya sebesar 25% tersebut masih bisa didiskon apabila adik dan kakak dididik pada tempat yang sama. Bahkan orang tua tunggal atau yang berpenghasilan berpeluang membayar pendidikan anak usia dininya dengan cuma-cuma. Kultur jam kerja yang fleksibel memungkinkan orang tua untuk pulang 1-2 jam lebih awal dari kantor supaya bisa menjemput anaknya pulang. Semua itu dilakukan pemerintah Denmark agar para orang tua gak ragu lagi untuk menitipkan anaknya pada pengasuh dan/atau lembaga PAUD, jika orang tua tenang mereka bisa segera kembali masuk kantor. Orang tua masuk kantor berarti produktivitas meningkat dan secara langsung berpengaruh pada perekonomian negara.


3. Pajak yang tinggi sebanding dengan fasilitas kesehatan yang mumpuni. Di Denmark, orang miskin tetap boleh sakit!



Warga Denmark memahami arti penting kesehatan hingga memandang perawatan medis sebagai hak dasar warga negara. Setelah membayar pajak perorangan dengan rate yang tinggi (bisa mencapai 60,2%), sangat wajar jika orang Denmark memperoleh pelayanan terbaik untuk masalah kesehatannya. Dengan pajak setinggi itu semua warga Denmark bisa merasakan nikmatnya jaminan kesehatan yang berkualitas. Biaya perawatan, kunjungan dokter, rawat inap, tes di lab, kontrol hingga beberapa jenis obat-obatan, semuanya ditanggung oleh sistem kesehatan negara yang tertata rapi tanpa orientasi untuk mengejar keuntungan.
Orang Denmark sangat peduli dengan kesehatannya, rata-rata mereka mengunjungi dokter ‘langganan’ hingga tujuh kali dalam setahun. Dan mereka akan mendapatkan semacam penasihat apabila tengah berurusan dengan penyakit atau urusan medis yang lebih rumit. Karena memiliki dokter favorit masing-masing dan selalu didampingi penasihat, maka orang Denmark selalu memahami kesehatannya dari waktu ke waktu.


4. Cuaca dingin dan langit yang gelap gak membuat orang Denmark murung, galau, dan gloomy



Sebuah negara di mana matahari bersinar kurang dari enam jam dalam sehari, ditambah suhu yang dingin, serta langit yang gelap suasana Denmark dengan mudah bisa mengubah mood seseorang dari negara tropis seperti kamu menjadi murung dan sedih. Namun kejamnya cuaca di sana gak menyurutkan kebahagian orang Denmark sama sekali, mereka justru melawannya dengan sebuah budaya lokal bernama hygge. Sulit menemukan padanan kata hygge dalam bahasa Indonesia, namun bisa dibilang hygge adalah kegiatan yang dilakukan orang Denmark untuk mengabaikan cuaca dingin dan langit gelap yang menghantui negara tersebut pada musim dingin.
Hygge bisa bebentuk apa saja, bisa benda ataupun kegiatan yang menimbulkan rasa nyaman, tenang, cinta bersama orang yang kamu sayangi sehingga rasa gloomy akibat cuaca yang memburuk bisa diusir. Minum cokelat panas di kafe bareng pacarmu adalah hygge, duduk di dekat perapian sambil berceloteh dengan keluarga juga hygge, atau berselimut ria sambil melanjutkan episode serial TV favorit bareng besties itu juga hygge. Lagi pula bercengkrama dalam kehidupan sosial dan disertai dengan makanan yang manis-manis adalah mood booster bagi semua orang bukan?
Hayoo…siapa di sini yang masih suka nge-tweet galau dan jadi teringat mantan setiap hujan turun?


5. Salah satu kunci kebahagiaan mereka adalah menjalani hidup yang sederhana dan minim ekspektasi



Bagi orang Denmark, menjadi sederhana adalah kunci menuju kebahagiaan, meraka gak mau menjalani gaya hidup yang muluk-muluk kalau pada akhirnya hanya bikin kamu kelelahan sendiri mencari uang, lalu kecewa karena apa yang kamu dapat gak sesuai yang kamu harapkan. Kadang-kadang kesederhanaan memberi lebih banyak kebahagiaan, daripada memiliki harta melimpah dan kekuasaan. Orang Denmark mengakui kalau mereka selalu punya low expectation dalam menjalani hidup, sehingga ketika mendapat lebih yang dari diharapkan mereka akan merasa girang, sementara kalau apa yang diperoleh gak sesuai dengan harapan mereka masih senang-senang aja.
Dengan punya ekspektasi yang rendah maka mereka akan jarang merasa kecewa. Jika ada orang Denmark mengaku gak bahagia, setidaknya mereka sudah memiliki kepuasan atas kehidupannya. Rasa puas ini adalah imbas dari tatanan masyarakat yang homogen, gak ada jaraknya besar antara yang kaya dengan yang miskin, dan minimnya gejolak berskala nasional selama bertahun-tahun.


6. Orang Denmark membuktikan kalau kamu gak harus punya mobil untuk menjadi bahagia



Sekitar 44%  keluarga di Denmark tidak memiliki mobil sama sekali. Lalu naik apa mereka saat bepergian? Naik angkutan umum dan sepeda tentunya. Sekitar setengah juta sepeda terjual tiap tahunnya di Denmark, makanya gak mengherankan kalau 9 dari 10 orang Denmark punya sepeda di rumahnya. Di Copenhagen, kota terbesar dan terpadat di Denmark, sepeda digunakan 50% alias separuh dari warga kota untuk berangkat ke sekolah, kampus dan kerja. Separuh kegiatan komuting di kota ini dilakukan dengan mengayuh sepeda karena selain menyehatkan tubuh, ternyata mengandalkan sepeda sebagai moda tranportasi utama membawa keuntungan bagi kota. Riset menemukan bahwa tiap kilometer yang dilalui dengan sepeda, seorang warga Copenhagen telah menghemat anggaran pemkot sebesar USD 7,8 yang biasa digunakan untuk menangani kecelakaan, kemacetan, polusi udara dan polusi suara. Dengan 1,2 km jarak yang ditempuh oleh seluruh warga dalam sehari, Copenhagen berhasil menghemat anggaran sebesar USD 34 juta tiap tahunnya.
Lalu alasan apa yang membuat warga Denmark dengan senang hati menempuh rata-rata 1,1 km tiap hari dengan sepada? Karena fasilitas bersepeda di sana begitu aman dan menyenangkan. Alih-alih membuat marka jalan dari cat yang memisahkan jalur sepeda dari kendaraan bermotor, pemerintah di sana membuat jalur sepeda yang benar-benar terpisah dengan jalan, hampir mirip seperti jalur busway tapi untuk sepeda. Dengan begitu pesepeda jadi aman dari ancaman tertabrak kendaran lain. Pemerintah di sana juga membangun rute nasional khusus sepeda sepanjang ribuan kilometer. Jadi kalau kamu kuat kamu bisa mengelilingi negara ini dengah sepeda. Modal dengkul kokoh aja, buat apa mikirin BBM?


7. Salah satu hal yang bikin mereka bahagia adalah mereka sadar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Orang-orang Denmark selalu ringan berbagi



Warga Denmark mau membayar pajak yang tinggi bukan karena mereka hanya memikirkan dirinya sendiri, bukan pula karena ingin anaknya kuliah gratis hingga meraih gelar PhD. namun karena orang Denmark memiliki rasa beratanggungjawab dan rasa saling memiliki terhadap sesama, terutama mereka yang pendapatannya kurang dari USD 55 ribu/tahun sehingga gak mampu membayar pajak sebesar 60%.
Para pembayar pajak Denmark sadar kalau uang yang mereka bayarkan akan digunakan untuk pemerataan pelayanan masyarakat, sehingga semua warga baik kaya maupun miskin bisa berobat gratis, semua pelajar terlepas apapun pekerjaan orang tuanya bisa kuliah hingga S3, semua anak mendapat pendidikan sejak dini, Agar warga tua, muda hingga anak kecil bisa bersepeda dengan aman di jalan raya, dan ketika nanti ketika jadi kakek-nenek pemerintah masih menjamin kesejahteraan mereka.
Rasa peduli yang didukung kemapanan ekonomi serta kesimbangan hidup dan kerja yang terjaga, menghasilkan sifat kesetiakawanan sosial yang tinggi. Lebih dari 40% warga Denmark terlibat sebagai tenaga suka rela pada organisasi kebudayaan dan olahraga, partai politik, organisasi sosial dan NGO.

Menjaga ekspektasi tetap rendah akan menghindarkan kamu dari kekecewaan. Kesimbangan dan fleksibelitas antara pekerjaan dan keluarga malah mendukung produktivitas mereka. Kamu juga bisa melihat bahwa melalui program-program yang gak berorientasi pada profit, pemerintah dapat memanjakan warganya dengan subsidi yang merata. Merasa bertanggung jawab atas keadaan orang lain memperlihatkan bahwa dengan peduli dan mau berbagi kamu bisa jadi manusia yang bahagia.
Orang Denmark sekali lagi menjadi bukti nyata bahwa terlepas dari uang dan kekuasaan, kebahagian justru di dapat ketika kamu gak mengharapkan yang muluk-muluk.

by Yogi

Selasa, 09 Desember 2014

5 Hal Sederhana yang Membuat Kebahagiaanmu Tertunda

Apalagi sih yang kita cari selain kebahagiaan? Sepertinya, motif sebagian besar orang di dunia melakukan sesuatu adalah untuk mengejar yang namanya kebahagiaan. Anehnya, terkadang kamu sendiri nggak tahu kenapa sering kali kamu kurang merasa bahagia. Kamu merasa kebahagiaanmu tidak kunjung datang, Tanpa pernah tahu apa penyebabnya.
Kenapa ya hal seperti itu seringkali terjadi? Jangan-jangan karena kamu sendiri yang sering melakukan hal-hal sederhana yang tanpa sadar bikin bahagiamu tertunda! Apa saja hal-hal tersebut? Apakah kamu juga sering melakukannya?


1. Kerja, kerja, dan kerja — sampai lupa ada aspek hidup lain yang tak kalah pentingnya

Terlalu sibuk dengan pekerjaan yang wajib kamu lakukan memang adalah sebuah hal yang dapat dimaklumi. Nggak bisa dipungkiri memang, pekerjaan dan tanggung jawab yang ada di pundakmu kerap memakan banyak waktu dalam hidup. Bangun pagi, ke kampus atau ke kantor, beraktivitas, pulang, istirahat, kemudian hari esok pun datang dan aktivitas sama kembali dilakukan.
Tetapi karena sering terlalu sibuk dengan rutinitasmu, kamu jadi lupa dengan segala esensi dari kehidupan yang kamu jalani. Ada hal-hal penting selain pekerjaan yang juga harus dipikirkan: kesehatan, waktu bersama keluarga dan teman-teman, juga kebahagianmu sendiri. Melupakan aspek hidup lain di luar rutinitas sebenarnya setara dengan mengorbankan kesempatanmu untuk bahagia.


2. Mengeluarkan uang hanya untuk memenuhi kebutuhan, tanpa pernah membeli pengalaman



Bagi sebagian orang, mengeluarkan uangnya untuk bersenang-senang adalah sebuah hal yang berlebihan dan dianggap sebagai kegiatan foya-foya. Mereka lebih memilih membeli sebuah barang yang mahal yang bisa mereka gunakan dalam waktu lama atau bisa mereka pakai sebagai investasi. Enggan mengeluarkan uang untuk traveling, tapi rela-rela saja beli gadget berharga belasan juta misalnya.
Mereka beranggapan seperti itu seakan-akan mereka percaya bahwa kebahagiaan hanya datang dari sebuah barang mahal yang bisa mereka beli, bukan dari sebuah pengalaman. Menurut hasil riset, menunjukkan bahwa pengalaman lebih bisa membuat kita bahagia daripada sebuah barang yang bagus. Jadi apa salahnya kita memanjkan diri untuk bepergian ke tempat baru atau menonton konser di luar negeri jika kita mampu? Pengalaman selamanya bisa dikenang dan digenggam, sementara barang suatu saat bisa rusak dan harus diistirahatkan.


3. Tidak pernah memanjakan diri sendiri dengan berlibur



Kalau bekerja terus-terusan tanpa libur bisa bikin kamu bahagia, mungkin kamu nggak perlu yang namanya liburan. Setiap hari kamu rajin bekerja, tapi sambil mengeluh dan menggerutu karena capek dan bosan. Kalau seperti itu terus yang ada kamu jadi makin tambah stress dan jadi pribadi yang negatif.
Sesibuk apapun dirimu, sempatkanlah dan rencanakan untuk berlibur. Kalau kamu udah ngerasa jengah, tandanya kamu butuh hiburan. Berliburlah saat weekend atau kalau kamu mau, kamu bisa menggunakan waktu cutimu. Kalau liburan bisa bikin kamu lebih bahagia, maka selalu sempatkanlah untuk berlibur dan membahagiakan dirimu sendiri.


4. Enggan melawan rasa takut demi mencoba hal baru



Mencoba sebuah pengalaman baru yang belum pernah sama sekali kamu lakukan, mungkin membuatmu sedikit takut dan ragu-ragu untuk mencobanya. Ketakutan-ketakutan tersendiri terkadang suka muncul tiba-tiba sehingga menimbulkan banyak pertimbangan yang sering berujung dengan pembatalan. Mau coba surfing — takut gak bisa, takut jatuh, tenggelam, atau cidera.
Ketakutan ini bisa muncul karena kamu enggan melawan rasa takut diri sendiri sehingga dengan mudahnya menyerah tanpa pernah mencoba. Kalau kamu sendiri nggak cukup punya keberanian dan ketangguhan untuk membuat dirimu bahagia, ketika kebahagiaan tidak datang padamu, orang yang harus kamu salahkan adalah dirimu sendiri.


5. Menunda. Merasa selalu punya “nanti” untuk mulai mengejar mimpi



Kamu mungkin lupa udah berapa kali menunda-munda mimpimu sendiri. Entah saat ditawari sebuah kesempatan emas, kesempatan liburan atau bahkan hal kecil seperti pulang ke rumah demi bisa berkumpul bersama keluarga. Kamu sering merasa punya waktu lain untuk melakukan hal tersebut. “Nanti akan tiba masanya, gak papa saat ini aku tunda” — begitu pikirmu.
Apakah kamu nggak pernah sadar ketika mengucapkan “Kapan-kapan aja deh”,  itu sama saja kamu sudah menunda-nunda kesempatan yang akan terjadi pada dirimu, termasuk kebahagianmu sendiri? Kesempatan bisa saja tidak akan datang 2 kali. Menunda hal yang bisa kamu lakukan saat ini sebenarnya sama dengan menunda kesempatanmu demi bisa mendapatkan kebahagiaan untuk diri sendiri.

Selalu ingat dan percaya, kebahagiaan itu tidak selamanya datang secara tiba-tiba lalu dengan sendiirinya datang menghampirimu. Semua itu kembali lagi pada diri kita sendiri. Yang tahu banget gimana kamu bisa bahagia adalah dirimu sendiri.
Jangan cuma berharap saja tanpa melakukan apa-apa. Ciptakan kebahagiaanmu dan wujudkanlah, jangan sampai kamu menyesal karena sudah terlalu terlambat untuk menyadari.

by hipwee

Keunikan Sekolah SD Di Jepang Yang Beda Jauh Dengan Indonesia





Bangun pagi, kemudian dilanjutkan dengan mandi, ibadah, sarapan pagi dan kemudian memakai seragam dan berangkat sekolah. Bel sekolah biasanya pukul setengah 7 pagi hingga setengah 8. Lalu dimulailah proses kegiatan belajar mengajar. Menjelang siang hari, kurang lebih jam 10 pagi, biasanya istirahat selama 30-45 menit, setelah itu proses kegiatan belajar mengajar dimulai lagi hingga siang dan bel pulang sekolah berdering ketika siang hari.
Begitulah aktivitas rutin sekolah di Indonesia, untuk libur sendiri biasanya setelah masa-masa ujian atau libur hari raya. Kami yakin bahwa Anda pernah mengalami masa-masa seperti ini dan saat ini rutinitas seperti itu dialami oleh buah hati Anda bukan?
Pernahkah Anda berpikir bahwa kebiasaan dan rutinitas seperti itu tidak dialami oleh sekolah di negara lain? Bahkan di tiap negara tentu berbeda aktivitas serta rutinitasnya dalam bersekolah. Pengen tau bagaimana detail rutinitas sekolah di Jepang?






Sekolah Berjalan Kaki






Pernah menyaksikan serial Doraemon? Jika iya, tentu pernah menyaksikan si Nobita bangun kesiangan, dan buru-buru ke sekolah. Tak pernah sekalipun Anda mendapati Nobita ke sekolah naik mobil bukan? Termasuk Suneo, walaupun dia kaya raya, dia ke sekolah dengan berjalan kaki.
Ya, begitulah negara Jepang. Untuk jenjang SD-SMP sekolah ditentukan oleh Pemerintah di sana. Orang tua harus mendaftarkan anaknya bersekolah di Balai Kota, nah Pemerintahnya lah yang menentukan di mana anak tersebut nantinya bersekolah. Jarak antara rumah dan sekolah menjadi salah satu faktor penentu, dan anak wajib berjalan kaki ke sekolah, tidak terlalu jauh, jadi tidak ada tuh macet akibat orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah.





Tidak Ada Sekolah Favorit






Dengan diaturnya anak bersekolah di mana, artinya tidak ada sekolah favorit. Semua sekolah rata, tidak ada para orang tua rebutan cari sekolah favorit untuk anaknya.





Tidak Berseragam dan Tidak Ada Upacara Bendera






Di Jepang juga tidak perlu upacara sekolah, tapi soal nasionalisme anak-anak Jepang jangan ditanya. Di SD juga anak-anak tidak perlu memakai seragam sekolah, kecuali pada saat pelajaran olah raga saja. Tetapi hal ini sepertinya tidak berlaku di semua sekolah.





Tas Sekolah yang Sama






Ingat dengan tas Nobita? tas punggung berbentuk kotak dan berwarna hitam? Kira-kira gambarnya seperti gambar di bawah ini.
Percaya tidak percaya, untuk jenjang SD semua muridnya memiliki tas seperti gambar di bawah ini, Yang membedakan hanyalah warnanya, biru dan hitam untuk laki-laki, serta untuk anak perempuan bisa warna-warni.
Uniknya lagi, tas seperti ini harganya mahal lho, sekitar 3000 yen atau jika dirupiahkan kira-kira 300 ribu rupiah. Wow! Meski mahal, tas ini bergaransi selama 6 tahun dan hanya sekali pakai, tidak bisa diwariskan ke adiknya nanti. Artinya tas ini akan dipakai selama anak duduk di bangku SD. Unik ya?
Jadi bisa dibayangkan, tidak akan terjadi beli membeli tas setiap tahun pelajaran baru seperti kebiasaan di Indonesia.





Waktu Pembagian Jam Pelajaran






Jam pelajaran SD dimulai pada jam 8 sampai jam 4 sore. Mata pelajarannya hanya Matematika, Bahasa Jepang, Seni, Olah Raga dan Lifeskill. Dari kelas 1 SD sampai kelas 2 SD, pelajaran Matematika hanya berkutat pada penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, ini terus diulang terus menerus hingga paham. Sementara untuk pelajaran Bahasa Jepang, ditargetkan untuk menghafal huruf Kanji. Dan untuk pelajaran IPA, murid langsung terjun ke alam.





Buku Project






Saat liburan musim panas (selama 45 hari), semua murid diwajibkan membaca dan menyelesaikan satu buku project. Project ini kemudian wajib dibuat dan itu dinilai sebagai tugas sekolah





Tidak Boleh Membawa Gadget


Walaupun Jepang termasuk negara yang canggih, namun murid di sekolah dilarang membawa gadget. Bentuk komunikasi dari keluarga ke anak yang berada di sekolah ketika sewaktu-waktu ingin menghubunginya semua lewat satu pintu, yakni sekolah. Ini termasuk salah satu bentuk kesederhanaan negara Jepang selain berjalan kaki ke sekolah tadi.

Nah, itulah berbagai kebiasaan unik sistem pendidikan di Jepang, banyak yang bisa kita ambil dari Negara ini ternyata.

by keepo

Senin, 08 Desember 2014

Saat Anak Atau Adikmu Main iPad, Anak-Anak Bos Google dan Apple Asyik Main Tanah di Sekolah

Di Indonesia, mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah salah satu muatan lokal yang umum ditemui. Banyak juga sekolah yang mengizinkan murid-muridnya membawa laptop untuk kepentingan mencatat atau browsing informasi saat di kelas. Selesai sekolah, anak-anak ini pun bukannya pulang ke rumah untuk istirahat; mereka justru kembali akrab dengan iPad atau game konsol mereka dengan alasan refreshing setelah seharian belajar. Saking sudah umumnya, sebagian dari kita mungkin menganggap fenomena ini sah-sah saja.
Tapi tunggu! Mari sejenak jalan-jalan ke Silicon Valley, sebuah kawasan di Amerika dimana perusahaan-perusahaan teknologi top dunia berkantor. Di tempat ini terdapat fakta yang akan membuat kita berpikir ulang,
“Apakah keputusan mengenalkan komputer pada anak sejak usia dini itu tepat?”


Para petinggi Google, Apple, Yahoo, HP hingga eBay mengirim anak-anaknya ke sekolah yang sama sekali tak punya komputer


Ketika sekolah-sekolah lain memasukkan komputer dalam kurikulum dan berlomba membangun sekolah digital, Waldorf School of the Peninsula justru melakukan sebaliknya. Sekolah ini dengan sengaja menjauhkan anak-anak dari perangkat komputer.
Sekolah Waldorf justru fokus pada aktivitas fisik, kreativitas, dan kemampuan ketrampilan tangan para murid. Anak-anak tak diajarkan mengenal perangkat tablet atau laptop. Mereka biasa mencatat dengan kertas dan pulpen, menggunakan jarum rajut dan lem perekat ketika membuat prakarya, hingga bermain-main dengan tanah setelah selesai pelajaran olahraga.
Guru-guru di Waldorf percaya bahwa komputer justru akan menghambat kemampuan bergerak, berpikir kreatif, berinteraksi dengan manusia, hingga kepekaan dan kemampuan anak memperhatikan pelajaran.


Para petinggi di dunia IT ini membela keputusan sekolah Waldorf untuk tak memperkenalkan komputer ke anak-anak mereka

metode belajar tanpa komputer justru mendapat kritikan
Waldorf, mengenalkan metode belajar tanpa komputer via www.nymetroparents.com
Banyak yang menganggap bahwa kebijakan yang dibuat Waldorf itu keliru. Meski metode pembelajaran yang mereka gunakan sudah berusia lebih dari satu abad, perdebatan soal penggunaan komputer dalam proses belajar-mengajar masih terus berlanjut.
Menurut para pendidik dan orangtua murid di Sekolah Waldorf, sekolah dasar yang baik justru harus menghindarkan murid-muridnya dari komputer. Ini disetujui oleh Alan Eagle (50), yang menyekolahkan anaknya Andie di Waldorf School of the Peninsula:
“[Anak saya baik-baik saja, meskipun] tak tahu bagaimana caranya menggunakan Google. Anak saya yang lain, yang sekarang di kelas dua SMP, juga baru saja dikenalkan pada komputer,” tutur Eagle, yang bekerja untuk Google.
Eagle tak mempermasalahkan ironi antara statusnya sebagai staf ahli di Google dan kondisi anak-anaknya yang gaptek.
“Misalkan saja saya seorang sutradara yang baru menelurkan sebuah film dewasa. Meski film itu didaulat sebagai film terbaik yang pernah ada di dunia sekalipun, saya toh tak akan membiarkan anak-anak saya menonton film itu kalau umur mereka belum 17 tahun.”


Tanpa perangkat komputer atau kabel, kelas-kelas di Waldorf punya tampilan klasik dengan papan tulis dan kapur warna-warni

Waldorf punya tampilan klasik nan unik
Waldorf punya tampilan klasik nan unik via chicagowaldorf.org
Sekolah Waldorf tampil dengan gaya ruangan kelas yang klasik. Tak banyak perangkat elektronik, layar-layar komputer, atau kabel-kabel yang menghiasi ruangan. Berhias dinding-dinding kayu, kamu hanya akan menemukan papan tulis penuh coretan kapur warna-warni. Ada rak-rak penuh berbagai jenis ensiklopedia hingga meja-meja kayu dengan tumpukan buku-buku catatan dan pensil.
Andie yang duduk di kelas 5 mendapat pelajaran membuat kaos kaki. Ketrampilan merajut dipercaya membantu anak-anak belajar memahami pola dan hitungan. Menggunakan jarum dan benang bisa mengasah kemampuan memecahkan masalah dan belajar koordinasi. Saat pelajaran bahasa di kelas 2, anak-anak akan diajak berdiri melingkar. Mereka diminta mengulang kalimat yang diucapkan guru secara bergiliran. Gilirannya ditentukan dengan melempar penghapus atau bola. Ternyata, metode belajar ini bisa jadi salah satu cara untuk mensinkronkan tubuh dan otak.
Guru kelas Andie, Cathy Waheed, mengajarkan anak-anak mengenal pecahan dengan metode yang sangat sederhana. Yup, Waheed menggunakan buah apel, kue pai, atau roti yang dipotong-potong lalu dibagikan pada murid-muridnya.
“Saya yakin dengan cara ini mereka bisa lebih mudah mengenal hitungan pecahan,” ujar Waheed, yang merupakan lulusan Ilmu Komputer dan sempat bekerja sebagai teknisi


Menurut guru-guru Waldorf, mengajarkan siswa memakai komputer tak akan membuat mereka bertambah pintar. Sampai saat ini belum ada penelitian yang bisa menjelaskan kaitan keduanya.

belum ada fakta yang mengaitkan penggunaan komputer dan prestasi siswa
belum ada fakta yang mengaitkan penggunaan komputer dan prestasi siswa via www.bacwtt.org
Selain dari pengajar dan orang tua murid, para ahli pendidikan pun menegaskan:
“Penggunaan komputer di ruang kelas sebenarnya tidak ada alasan ilmiahnya. Sampai saat ini toh belum ada penelitian yang membuktikan bahwa keterampilan menggunakan komputer akan berpengaruh pada nilai tes atau prestasi mereka.”
Nah, apakah belajar hitungan pecahan dengan memotong apel atau merajut jauh lebih baik? Bagi Waldorf, pertanyaan ini sulit dibuktikan. Sebagai sekolah swasta, Waldorf tak berpedoman pada tes-tes dasar yang serupa dengan sekolah-sekolah lain. Mereka pun memang mengakui bahwa murid-muridnya tak akan dapat nilai setinggi anak-anak sekolah negeri jika diminta mengerjakan soal-soal tes umum. Bukan karena mereka bodoh, namun karena murid-murid Waldorf memang tak dijejali teori-teori matematika dasar sesuai kurikulum.
Namun, ketika diminta membuktikan efektivitas pendidikan di Waldorf, Association of Waldorf School di Amerika Utara menayangkan hasil penelitian yang tak main-main:
“94% siswa lulusan SMA Waldorf di Amerika Serikat di antara tahun 1994 sampai 2004 berhasil masuk di berbagai jurusan di kampus-kampus bergengsi seperti Oberlin, Berkeley, dan Vassar.”
Selain faktor minimnya teknologi, kualitas pengajar yang baik di Waldorf juga dinilai berpengaruh pada keberhasilan sekolah tersebut mengirim anak-anaknya ke universitas-universitas bergengsi di Amerika. Waldorf memang tak sembarangan dalam memilih guru. Selain berpendidikan tinggi, mereka harus memiliki jam terbang yang mumpuni. Wajar saja jika Waldorf kemudian berhasil mengembangkan anak didik mereka menjadi hebat dan berprestasi.
Kualitas inilah yang kemudian membuat para orangtua percaya pada metode pengajaran Waldorf. Salah satu orangtua tersebut adalah Pierre Laurent (50), pendiri startup yang sebelumnya bekerja di Intel dan Microsoft. Bahkan saking terkesannya dengan metode Waldorf, Monica Laurent, istri Pierre, bergabung menjadi guru di sekolah ini sejak tahun 2006.


Waldorf memegang filosofi bahwa belajar-mengajar bukan perkara sederhana. Ini tentang bagaimana seharusnya menjadi manusia.

belajar adalah pengalaman yang berharga
belajar adalah pengalaman yang berharga via www.erziehungskunst.de
Sebenarnya menurut Waldorf, memilih menggunakan teknologi komputer atau tidak bisa jadi sifatnya subyektif  atau perkara pilihan. Terserah saja, menurut kebijakan sekolah masing-masing. Namun yang harus dicatat: ketika anak sudah dibiarkan lekat dengan komputer sejak dini, bisa saja ia akan ketergantungan dan sulit melepaskan gawai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Ann Flynn — petinggi National School Boards Association yang membawahi sekolah-sekolah negeri di Amerika — tetap bersikeras bahwa pelajaran komputer itu penting. Sementara Paul Thomas, mantan guru dan profesor pendidikan yang sudah menulis lebih dari 12 buku tentang metode pendidikan publik, lebih setuju pada Waldorf. Baginya, pendekatan yang minim teknologi di dalam kelas justru sangat bermanfaat.
“Mengajar adalah pengalaman manusia. Teknologi justru bisa jadi gangguan ketika mengenal huruf dan angka, belajar hitungan, dan berpikir kritis, “ ungkap Thomas.


Keahlian di bidang IT adalah modal untuk bersaing di dunia kerja. Tapi, haruskah itu menjadi alasan untuk mengenalkan komputer pada anak sejak dini?

apakah mengenalkan komputer sejak dini itu tepat?
apakah mengenalkan komputer sejak dini itu tepat? via www.thecityschoolla.org
“Komputer itu sangat mudah. Kami di Google sengaja membuat perangkat yang ibaratnya bisa digunakan tanpa harus berpikir. Anak-anak toh tetap bisa mempelajari komputer sendiri jika usia mereka sudah dewasa.”
– Alan Eagle.
Singkatnya, Eagle menjelaskan bahwa komputer itu mudah dan bisa dipelajari lewat kursus kilat sekalipun. Jadi buat apa “membunuh” kreativitas alami anak dengan memaksa mereka mempelajari komputer sejak dini?
Bukan berarti anak-anak di Waldorf dan Silicon Valley sama sekali tak melek teknologi. Siswa-siswa kelas V di Waldorf mengaku sering menghabiskan waktu mereka dengan menonton film di rumah. Seorang siswa yang ayahnya bekerja sebagai teknisi di Apple mengaku sering diminta mencoba game baru ciptaan sang ayah. Sementara seorang murid biasa berkutat dengan flight control system di akhir pekan bersama orang tuanya.
Justru anak-anak ini sudah mendapat pengetahuan teknologi dalam porsi yang pas, mengingat kebanyakan orangtua mereka adalah penggiat industri teknologi. Berkat didikan di Waldorf, anak-anak Silicon Valley mengaku tak nyaman saat melihat orang-orang di sekitarnya sibuk dengan gadget mereka.
“Aku lebih suka menulis dengan kertas dan pulpen. Ini membuatku bisa membandingkan tulisanku saat kelas I dengan yang sekarang. Kalau aku menulis di komputer ‘kan… gaya tulisannya sama semua. Dan kalau komputermu tiba-tiba rusak atau mendadak mati listrik, pekerjaanmu jadi tak selesai ‘kan?” ungkap Finn Heilig, yang ayahnya bekerja di Google.
Sekali lagi, metode pendidikan tanpa komputer bukannya bermaksud menutup akses anak untuk mengenal teknologi. Kelak, di usia tertentu mereka tetap punya kesempatan untuk mempelajarinya. Sementara di masa kanak-kanak, mereka berhak mendapat kesempatan menjadi sebenar-benarnya anak-anak.

Bagaimana nasib adik-adikmu atau anak-anakmu sendiri kelak? Apakah lebih baik mereka dikenalkan dengan gadget dan perangkat teknologi sejak dini, atau lebih baik menunggu sampai saat yang benar-benar tepat?

by here 

Rabu, 03 Desember 2014

Hal-Hal yang Membuka Matamu Bahwa Pacaran Bukanlah Segalanya

Banyak yang berpendapat kalau menjadi jomblo itu tidak semenyenangkan memiliki hubungan spesial dengan seseorang. Padahal sebenarnya, banyak nilai hidup yang akan kamu peroleh dengan menyandang status lajang. Selain bisa belajar mencintai diri, status lajang juga mengajarkanmu banyak hal. Hal apa sajakah itu? Berikut ini adalah hal-hal yang membuatmu semakin mensyukuri status lajang dan menyadari bahwa pacaran itu bukan segalanya.

1. Hatimu cuma ada satu. Sebagai jomblo, kamu tak perlu mematahkannya hanya agar bisa memberi setengah bagiannya pada orang lain.




Saat kamu memiliki seorang kekasih di sampingmu, kamu akan terbiasa memikirkan segala sesuatunya dari dua sudut pandang sebelum mengambil keputusan. Bahkan, tak menutup kemungkinan kamu akan meminta pendapat kekasih sebagai bahan pertimbangan. Demi kelanggengan hubungan kalian. Terkadang keputusan sulit juga harus kamu ambil dengan mengatasnamakan cinta. Misalnya saja kamu jadi harus menolak promosi jabatan karena dipindah tugaskan di kota lain. Atau kamu batal melanjutkan sekolah ke luar negeri karena pacarmu ingin selalu dekat.
Bagi kamu yang kini lajang kamu gak harus merasakan semua ini. Keputusan apapun sepenuhnya adalah milikmu. Kamu bisa bebas memutuskan segala sesuatunya dengan memprioritaskan kenyamananmu di urutan teratas.


2. Kamu pun akan terkejut karena tak pernah mengira bisa seberani ini



Tanpa keberadaan dia yang selalu memanjakan, kamu dituntut menjadi pribadi yang lebih berani. Selain memutuskan segala sesuatunya seorang diri, lajang berarti menjadi pribadi yang lebih berani dan percaya diri. Jika cewek lain selalu minta diantar jemput dan ditemani oleh pacar karena mereka takut sendirian, bersyukurlah kamu bisa mengandalkan diri sendiri untuk pergi kemanapun. Rasa berani inilah yang kemudian memupuk rasa percaya dirimu. Kamu menjadi semakin yakin akan diri sendiri dan percaya bahwa setiap rintangan selalu bisa kamu hadapi dengan maupun tanpa seorang kekasih.


3. Status lajang juga membuatmu lebih bebas menetapkan target hidup



Ketiadaan dia yang terkadang menjadi batu sandungan membebaskanmu menatap masa depan dengan penuh semangat. Kamu semakin jelas menatap arah masa depanmu. Kamu jadi kian tau apa yang kamu mau dalam hidup. Bahkan, kamu bebas setinggi mungkin untuk bermimpi dan bercita-cita. Tak ada kerikil kecil atau batu sandungan yang sembunyi dalam wujud seorang pacar. Kamu bisa dengan lugas dan jelas menetapkan target hidup demi kesuksesanmu kelak.


4. Katakan selamat tinggal untuk hal-hal negatif yang sering kamu dapatkan selama menjalin hubungan



Selain bebas, kamupun bisa berjauhan dengan hal-hal negatif yang selama ini kamu dapatkan selama menjalin hubungan dengan kekasih. Kamu bisa terhindar dari rasa cemburu dan mencemburui. Katakan selamat tinggal juga pada drama. Hidupmu selama melajang ini lebih bahagia dan sederhana, tidak ada lagi airmata yang tiba-tiba muncul di saat hari senja. Pertengkaran yang selama ini membuatmu merasa tertekan, sedih, dan terpuruk sudah hilang. Pada akhirnya, kamu bisa benar-benar memfokuskan diri pada kebahagiaanmu semata.


5. Jika dulu kamu berusaha tampil cantik demi dia, sekarang kamu memperhatikan penampilanmu demi diri sendiri. Dan rasanya jauh lebih menyenangkan!



Bersyukurlah karena saat menjalani status lajang kamu kian kaya akan waktu luang. Hidupmu praktis hanya terfokus pada dua hal; pekerjaan/studi dan dirimu sendiri. Gunakanlah waktu luang untuk merawat diri. Jika dulu kamu hanya punya sedikit waktu senggang karena harus mengantar jemput pacar, mungkin sekarang saat menjadi jomblo kamu bisa mendapatkan waktu tidur yang teratur dan stabil. Jika semasa memiliki kekasih kamu tidak sempat memanjakan diri dengan melakukan hobi lama, kini saatnya kamu kembali menekuninya. Merawat diri dengan spa sederhana atau pergi ke salon juga bisa kamu lakukan demi mempercantik diri.


6. Kamu akan paham bahwa tak perlu ada orang lain yang memuji, jika kamu ingin nyaman dengan diri sendiri



“Be yourself; everyone else is already taken.”
― Oscar Wilde
Tidak ada yang membuatmu lebih nyaman selain jujur terhadap diri sendiri. Jika kamu ingin orang menerima dan mencintai dirimu apa adanya, maka hal pertama yang kamu lakukan adalah jujur dan cintailah dirimu sendiri. Hal ini akan membantumu mencari tahu apa yang sebenarnya kamu mau dalam hidup. Kamu juga belajar untuk tidak melulu mengorbankan dirimu sendiri demi kebahagiaan orang yang kamu cintai.


7. Hubungan dengan keluarga dan sahabat pun semakin erat, karena kamu tahu bahwa tak ada yang bisa menggantikan cinta mereka



“You must remember, family is often born of blood, but it doesn’t depend on blood. Nor is it exclusive of friendship. Family members can be your best friends, you know. And best friends, whether or not they are related to you, can be your family.”
― Trenton Lee Stewart, The Mysterious Benedict Society
Ketiadaan sesosok kekasih di sampingmu yang selalu menopang dan menyemangati tidak akan menciutkan nyalimu. Kamu punya yang lebih baik dari dia; keluarga dan sahabat. Mereka tidak terpisahkan dari hidupmu. Bahkan, kamu bisa selalu minta bantuan kepada mereka kapanpun dan dimanapun. Menjadi lajang memberimu banyak kesempatan untuk mempererat hubungan dengan orang-orang terdekatmu. Kamu bahkan bisa mulai memperbaiki hubungan dengan saudara atau sahabat lama yang dulu sempat retak.


8. Menyandang status lajang, kamu bisa lebih tahu makna hidup yang sebenarnya



Bahagia itu gak melulu ketika menerima sekuntum mawar dari pacar, tapi kebahagiaan yang nyata hadir ketika kamu berhasil mengajarkan cara membaca yang benar kepada salah satu anak didikmu di pedalaman.
Selain tangguh dan mandiri, terkadang kamu akan mengerti makna dan nilai hidup ketika status lajang tersemat padamu. Kamu bisa lebih peka terhadap sekitar. Selain mengutamakan kenyamanan diri, kamu juga akan merasa tergerak untuk membantu lingkungan. Karena kamu single, kamu bebas mendayagunakan waktu luang untuk kegiatan apapun. Kamu bisa mendedikasikan diri untuk mengajar di pedalaman, menjadi volunteer saat ada bencana di Indonesia, bahkan bergabung dan aktif di komunitas penyelamat satwa. Kamu juga bisa mendapatkan banyak pelajaran dan nilai hidup yang selama ini tak pernah terlintas di benakmu. Bahkan, mungkin dari sinilah kamu baru akan menemukan arti kebahagiaan yang sebenarnya.


9. Karena terbiasa melakukan semua hal sendiri, kemampuan pribadimu pun akan semakin terasah tajam



“Promise me you’ll always remember: You’re braver than you believe, and stronger than you seem, and smarter than you think.”
― A.A. Milne
Dengan melakukan segala sesuatunya seorang diri, kamu dituntut untuk bisa mendorong dirimu sampai ke ambang batas kemampuan. Kamu bisa mengetahui dimana letak kekuatan dan kelemahanmu. Hal ini bisa membantumu mengulik potensi dan talenta apa saja yang kamu miliki. Bahkan, kamu juga tambah mengerti dan makin cinta diri.


10. Pada akhirnya, matamu yang telah terbuka akan mampu melihat hal-hal yang membuatmu bahagia



“Count your age by friends, not years. Count your life by smiles, not tears.”
― John Lennon
Mengenal dirimu dengan lebih baik berarti kamu bisa lebih memahami apa yang kamu inginkan dan tidak. Bahkan, kamu jadi mengetahui hal-hal apa saja yang bisa menjadi sumber kebahagiaanmu. Kelak, kamu bisa menjadikan hal ini sebagai kunci kebahagiaanmu di masa depan.

Jangan takut untuk menjadi lajang ya, karena mungkin kamu akan menemukan banyak hal yang lebih membahagiakan daripada sekedar menerima sekuntum mawar dari pacar

by hipwe

8 Cara Jitu Mengetahui Apa Yang Benar-Benar Kamu Inginkan Dalam Hidup

Membuat pilihan adalah hal yang pasti kita lakukan setiap hari. Baik pilihan kecil seperti sarapan roti atau nasi, sampai hari dimana kita harus membuat pilihan besar yang akan menjungkirbalikkan dunia yang selama ini kita tahu. Dari pilihan-pilihan yang kamu buat inilah, hidupmu perlahan-lahan terlihat bentuknya. Tapi tentu saja, pasti ada saat dalam hidup dimana kamu terhenti tanpa bisa mengambil keputusan. Atau bahkan kamu tidak tahu bahwa kamu punya pilihan.
Jangan terlalu lama terombang-ambing dalam kesesatan hidup tanpa tahu tujuanmu selanjutnya. Tanpa kamu sadari waktu telah menjalankan hidupmu tanpa kehadiranmu. Bergegaslah mencari tahu apa yang benar-benar kamu inginkan dalam hidup sehingga kamu bisa segera memilih jalan untuk maju ke depan. Jika kamu masih tidak tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan, terapkanlah cara-cara berikut.


1. Inilah Saat Yang Tepat Untuk Jadi Egois




Kamu tidak akan bisa mengetahui apa yang benar-benar KAMU inginkan dalam hidup jika terus-menerus mengorbankan waktu dan perhatianmu untuk orang lain. Bercerminlah dan tanyakanlah pada dirimu pertanyaan berikut
Jika sekarang kamu tidak terikat kontrak pekerjaan, tanggungjawab keluarga, atau prioritas lain yang membatasimu, apa yang benar-benar ingin kamu lakukan?
Dengan menempatkan dirimu di atas segala-galanya, kamu justru bisa melihat secara lebih jelas semua keinginan yang selama ini terpendam atau tidak berani kamu ungkapkan. Impian tersebut kamu pendam jauh-jauh mengingat segala keterbatasanmu atau memang kamu anggap mustahil untuk dicapai. Tapi disaat kamu sedang tersesat, keegoisan jutsru akan bisa menuntunmu lebih dekat ke jawaban yang selama ini kamu cari. Jadi proses pencarian ini memang harus diawali dengan menjadi egois.


2. Cobalah Semua Hal yang Ingin Kamu Jajal, Kemudian Terima Kegagalanmu

wpid-Featured_Picture83-1024x682

Jika kamu tidak memiliki petunjuk apapun tentang apa yang sebenarnya kamu inginkan, maka kamu harus berani mencoba semua hal yang belum pernah kamu coba. Jangan harap semua percobaanmu akan berakhir manis,karena justru kegagalan yang akan jauh lebih sering menghampirimu. Dengan begitu kamu akan tahu secara nyata mana jalan yang sesuai atau tidak sesuai untukmu.
Jangan takut untuk gagal dalam usahamu mencoba tantangan baru, karena sejatinya segala pelajaran yang dapat kamu ambil dalam tantangan tersebut jauh lebih baik daripada berdiam diri pada tempat yang sama. Percayalah bahwa sebenarnya tiap kegagalan akan mengajarimu lebih jauh untuk menemukan hal yang benar-benar kamu ingin lakukan dalam hidup.


3. Bebaskan Dirimu Dari Penyesalan

8301387451_3a27b23f5a_b

Jika kamu tidak egois, memberanikan diri untuk mencoba, dan berlapang dada menerima kegagalan, hidupmu pasti seringkali dihinggapi penyesalan. Penyesalan terhadap masa lalu hanya akan lebih menjauhkanmu dari jawaban yang kamu butuhkan untuk membawamu maju ke depan. Jawaban tersebut baru akan muncul jika kamu sudah bisa terlepas dari segala penyesalan yang selama ini membebani hatimu.
Lepaskan beban tersebut dan melangkahlah ke depan. Mungkin selama ini pandanganmu terhadap kenyataan, masa depan, dan apa yang kamu inginkan terkaburkan oleh beban masa lalu yang selalu kamu simpan dalam-dalam. Masa lalumu tidak seharusnya ada di belakang untuk menahan langkahmu, tapi justru jadi pijakan kuat yang menyongsong langkahmu ke depan.


4. Cari Tahu Apa Yang Wajib Kamu Miliki Dalam Hidup

question-mark-chalk-board-woman-thinking-hplead

Cari tahu apa yang kamu inginkan dari apa yang tidak bisa kamu lepaskan atas nama apapun. Cari tahu hal yang akan membuat hidupmu sama saja dengan mati jika kamu tidak memilikinya. Apakah itu keluargamu ? Atau kekasihmu ? Atau jaminan finansial ? Bahkan untuk orang tertentu, tidak diperbolehkan memakai rok pendek ke kantor pun akan memangkas habis identitas diri yang mereka junjung tinggi.
Akan lebih mudah untuk memetakan apa yang tidak ingin kamu lepaskan dan terus ingin kamu jaga selamanya, dibandingkan mencari inspirasi dari lautan kehidupan. Jika kamu benar-benar tidak tahu apa yang kamu inginkan, rangkailah mimpimu dari apa yang tidak bisa korbankan demi apapun juga.


5. Jangan Asal Benci Saja! Ketahui Secara Persis Mengapa Kamu Merasa Terganggu Dengan Hal-Hal Yang Tidak Kamu Sukai

ohcVaqO

Jika mencari apa yang kamu sukai dan inginkan dalam hidup terlalu sulit, pelajarilah hal yang jelas-jelas membuatmu bergidik penuh rasa benci dan amarah. Tapi jangan hanya bilang kamu membenci pekerjaanmu. Cari tahu secara persis apa yang membuatmu tidak suka dengan pekerjaanmu. Apakah karena atasan yang selalu merendahkanmu? Atau beban kerja yang tidak manusiawi? Atau memang dari awal kamu menerima pekerjaan ini dengan terpaksa?
Setelah kamu tahu jawabannya, mulailah untuk segera berpikir apa yang bisa kamu perbuat untuk mengatasinya. Mungkin kamu harus berbicara dengan bosmu atau ternyata tidak ada jalan lain kecuali mengundurkan diri. Hanya dengan begitu, kamu tidak akan lagi disibukkan dengan perasaan negatif yang terus-menerus mengelilingi hidupmu. Kamu juga sudah tahu secara persis apa yang harus kamu hindari nantinya jika tidak ingin lagi terperangkap dalam ke-negatif-an.


6. Lalu, Tentukan Apa Yang Sebenarnya Membuatmu Bahagia

o-TEENAGER-HAPPY-facebook

Jika sudah menyingkirkan hal-hal negatif dalam hidupmu, kamu akan bisa melihat lebih jelas apa itu arti kebahagiaan. Kamu tidak lagi hanya berusaha keluar dari ‘penderitaan’ hidup, tapi sudah berdiri di tempat yang tepat untuk mencari kebahagiaan yang sesungguhnya. Kamu mungkin akan terkaget-kaget sendiri bagaimana pekerjaan yang jauh dari predikat mentereng justru mampu membuatmu merasa jauh lebih bahagia dibandingkan kemapanan finansial yang ditawarkan pekerjaanmu terdahulu.
Jadikanlah kebahagiaan tersebut pedoman utama untuk menentukan rencanamu ke depan. Kehidupan akan terus memberimu petunjuk, tinggal bagaimana kamu bisa dengan bijak memanfaatkan petunjuk tersebut. Maka dari itu janganlah berusaha menipu dan meyakinkan dirimu jika kamu bahagia, padahal kamu tahu itu tidak benar. Karena dengan begitu, kamu hanya akan semakin menjauhkan dirimu dari hal yang benar-benar membuatmu bahagia.


7. Pastikan Orang-Orang Terdekat Mengerti Keputusanmu Memperbaiki Haluan Hidup

0519-0908-3023-2156_president_barack_obama_whispering_into_first_lady_michelle_obamas_ear_during_the_white_house_cinco_de_mayo_celebration_o

Walaupun harus bermula dari dirimu sendiri, jangan jadikan ini perjuangan solo yang sepi. Berbagilah pikiran dan perasaan dengan orang-orang terdekatmu. Mereka juga pasti ingin kamu menemukan jalanmu menuju kebahagiaan. Mereka yang paling mengerti dan menyayangimu pasti juga dapat memberikan ide-ide baru yang menginspirasimu. Walaupun keputusan akhir selalu berada di tanganmu, kehangatan dari kebersamaan yang kalian bagi pasti dapat membantumu melewati kesesatan dunia.


8. Jalani Hidup Sebaik Mungkin Hingga Kamu Menemukan Jawaban yang Dicari

image

Kehidupanmu memang tidak akan selalu mengalir sesuai keinginanmu. Kamu bisa saja terbawa arus yang terlalu deras hingga kamu hampir tenggelam. Atau bahkan macet karena tertahan bebatuan. Mulai sekarang jangan mau terombang-ambing dalam ketidakpastian, segeralah ambil alih kemudimu hidupmu.
Kamu memiliki kendali untuk memilih jalan hidupmu sendiri. Jadi jangan lagi kamu tersesat dari keributan jalan yang dipilihkan untukmu. Walaupun mungkin akan salah berbelok satu dua kali, yakinlah kamu pasti akan menemukan jalanmu yang benar.

Bingung dan tersesat itu adalah hal yang pasti dialami manusia yang penuh ketidaktahuan. Tapi apa yang kamu lakukan selanjutnya-lah yang akan membedakan mereka yang akhirnya menemukan kebahagiaan dari meraih apa yang benar-benar mereka inginkan dalam hidup. Namun jika kamu malu mengakui bahwa kamu sedang tersesat dan terus menjalani hidup yang tidak akan memenuhimu, maka sesungguhnya kamu adalah golongan yang merugi. Pastikan kamu tidak termasuk golong itu dan mulailah benar-benar memikirkan apa yang sebenarnya ingin kamu raih dalam hidupmu

by hipwee

Minggu, 30 November 2014

Kenyataan Hidup yang Harus Kamu Terima Sebelum Masuk Ke Umur 25

Menjadi manusia yang menyandang usia 25 tahun memang bukan perkara mudah. Beberapa orang menganggap 25 tahun sebagai usia dewasa yang membuat seseorang sudah harus mampu bertanggung jawab pada hidupnya. Namun bagi yang sudah menjalani usia ini, tak jarang merasa biasa saja. Kadang terasa berat, malah.
Di luar sana, usia 25 dianggap sakral. Dipandang sebgai usia tepat bagi perkembangan kedewasaan. Padahal tak sesederhana itu. Ada hal-hal tentang menjadi dan menjalani 25 tahun yang tak semua orang mau beritahukan padamu


1. Kamu Sempat Membayangkan Di Usia 25 Sudah Bisa Punya Rumah, Mobil, dan Merdeka Secara Finansial. Kenyataannya Kamu Justru Merasa Belum Jadi Apa-Apa Sebagai Manusia



Di usia belasan kita kerap berandai-andai:
“Nanti umur 25 aku pasti udah nikah.”
“Umur 25 aku udah kerja, punya pasangan pasti, mapan, bisa membangun kehidupan sesuai gambaran. “
Tapi cobalah kamu tanya pada orang yang sudah menjalani usia yang sering dibilang orang “sakral” ini. Sudahkah mereka merasa cukup dengan hidupnya? Sudahkah segala pencapaian yang diidamkan itu tergenggam tangan? Bukannya membusungkan dada, kebanyakan orang justru merasa usia 25 belum menjadikan mereka sebagai sosok yang pantas berbangga.
Saat sudah menjalani usia 25, sebuah kesadaran akan menghampirimu. Hidup ternyata tidak semulus bayangan masa mudamu. Kamu masih harus berjuang di tempat kerja, terseok-seok menyelesaikan studi, berusaha jadi anak yang bisa membahagiakan kedua orang tua. Usia yang sudah seperempat abad tidak berarti apa-apa. Kamu masih tetap harus berupaya sekuat tenaga demi menjadi versi baik dari seorang manusia.


2. Tidak Banyak Orang Bicara Tentang Kegamangan Hidup Mereka: Sulitnya Cari Kerja, Bingung Mau Membawa Hidup Ke Arah Mana



Ibarat sebuah persimpangan besar, usia 25 adalah tikungan yang paling krusial. Bagaimana tidak, di usia ini keputusan-keputusan penting harus diambil. Mau kerja di bidang apa, mau berkarir dalam dunia seperti apa, sampai kapan harus memikirkan untuk berkeluarga. Kamu pikir semua ini bisa dilalui dengan mulus tanpa galau? Berdoalah banyak-banyak jika ingin transisimu mulus.
Nyatanya, banyak yang sempat terkena krisis hidup di usia ini. Pongah mendaftar hanya di pekerjaan yang disuka, tapi ternyata tidak diterima. Kemudian sibuk melamar di mana saja, kemudian terjebak dalam pekerjaan yang bertentangan dengan gambaran masa depan. Galau, bingung, sampai merasa takut tidak punya masa depan amat sering datang melanda. Ternyata menjadi 25 tidak sesederhana yang kamu kira ‘kan?


3. Kamu Pikir Pendidikan Tinggi Menyelamatkan Karirmu?  Tidak. Semua Pencapaian Kembali Pada Usahamu



Saat kuliah kamu bisa jadi pribadi yang sangat jumawa. Merasa paling pintar sedunia, merasa bisa berkompetisi dengan pesaing lain yang kelak kamu temui di dunia kerja. Rasanya ilmu yang kamu dapatkan di bangku kuliah bisa jadi jaminan bagi kesuksesan masa depanmu nantinya. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu, Bung dan Nona.
Gelar pendidikan tinggi yang kamu dapatkan dengan susah payah memang bisa mengantarkanmu ke pintu gerbang kesuksesan. Tapi pencapaian selanjutnya bergantung pada seberapa tinggi kamu mau menyingsingkan lengan demi bekerja keras. Di usia ini kamu akan sadar bahwa kepintaran dan nilai bagus bukanlah segalanya. Kegigihan dan kemauan untuk terus berjuang adalah kunci utama yang bisa menentukan kesuksesanmu nantinya.


4. Bersiaplah Ternganga Melihat Temanmu yang Dulu Biasa Saja Justru Melesat Lebih Sukses Darimu



Hidup memang selalu punya kejutan. Salah satu surprise yang sering diberikan hidup di umur seperempat abad adalah kenyataan bahwa kawan yang dulu kamu anggap sebelah mata justru bisa meraih kesuksesan yang lebih tinggi dari pencapaianmu. Dia yang dulu cupu, sekarang bekerja di sebuah digital agency ternama — dengan posisi yang lumayan pula. Sementara kawanmu yang dulu sangat populer di sekolah malah jadi karyawan biasa.
Tidak banyak orang mau bercerita bagaimana mereka dikejutkan oleh kenyataan hidup yang tidak disangka. Di umur 25-an, kenyataan-kenyataan hidup yang disodorkan di depan matamu mau tak mau membuatmu harus percaya. Bahwa pada hakikatnya semua manusia punya kesempatan untuk berhasil, selama mereka mau berusaha.
Bully, olokan, dan ejekan memang bukan hal yang penting dilakukan. Yang ada kamu justru bisa malu sendiri saat nanti teman yang kamu bully itu lebih berhasil dalam kehidupan.


5. Dulu Mereka Bilang, “Kejar passion-mu. Maka kamu tidak akan merasa bekerja seumur hidup.” Kenyataannya, Tidak Semudah Itu…..



Di usia 20-an, passion adalah hal yang kamu yakini amat perlu ditemukan. Mati-matian, kamu berusaha mendapatkannya. Demi mengetahui the so called passion itu kamu rela menggali hobi, ikut beragam UKM, sampai bergaul dengan teman dari berbagai komunitas. Passion juga masih kamu pegang teguh sampai tiba waktunya mencari kerja. Gak mau deh kerja kalau tidak sesuai hati nurani.
Tapi, benarkah kamu tidak akan merasa bekerja jika menggeluti hal yang kamu cinta?
Kenyataannya (ternyata) tidak sesederhana itu. Pekerjaan tetap akan terasa sebagai sebuah pekerjaan. Kamu yang hobi musik dan memutuskan jadi seorang pemain band tetap merasa bosan saat harus tur keliling Indonesia berbulan-bulan. Kamu yang passion dan pekerjaannya berada di dunia fotografi juga tetap ingin cuti pun merasa jenuh.
Passion membuatmu bangun pagi dengan bahagia. Passion memang membuatmu punya alasan pergi bekerja dengan ikhlas. Namun selamanya sebuah pekerjaan tetaplah terasa seperti pekerjaan.


6. Tak Perlu Merasa Mengkhianati Diri Karena Merelakan Idealisme Demi Uang. Kamu Hanya Sedang Berjuang Demi Tetap Hidup



Idealisme memang sebuah kemewahan yang seharusnya dimiliki oleh generasi muda. Semasa kuliah dulu, bisa jadi kamu adalah seorang penganut paham sosialisme sejati. Kamu lantang mengutuk korporasi, menyalahkan mereka atas ketimpangan pendapatan masyarakat dan kerusakan lingkungan. Kamu ogah bergabung dengan korporasi pasca lulus. Idealismu pokoknya tidak bisa diganggu gugat!
Seiring usiamu yang makin dewasa, kamu akan menyadari bahwa idealisme seharusnya membuatmu jadi manusia yang punya pegangan. Bukan menjadikanmu kehilangan kendali atas pemasukan, yang krusial bagi kelangsungan hidupmu di masa depan. Kamu akan dan harus mulai belajar untuk menyelaraskan antara idealisme dan fakta di lapangan.
Kamu yang merasa sosialis bisa saja tetap masuk ke korporasi liberal, just for the sake of money. Tidak ada yang salah dengan itu. Tak ada orang yang berhak menyalahkanmu. Kamu pun tak perlu repot menjelaskan, toh hanya kamu yang tahu bahwa idealisme akan tetap tertinggal di hatimu. Kini, kamu hanya sedang berjuang demi bertahan hidup.


7. Uang Memang Bukan Segalanya — Tapi Di Beberapa Kesempatan, Uang Bisa Jadi Sumber Masalah.



Akhirnya kamu sepakat bahwa ada hal-hal lain di luar materi yang tak kalah penting. Pertemanan, ikatan keluarga, sampai hubungan hangat dengan pasangan yang dicinta. Ternyata hidup lebih dari sekadar berapa besar gajimu, seberapa mampu kamu memenuhi segala kebutuhan materi yang bisa membuatmu dianggap berhasil dan sukses.
Tapi walaupun uang bukan segalanya, di beberapa kesempatan uang bisa jadi sumber masalah. Hubunganmu dengan teman-teman bisa merenggang karena salah satu dari kalian merasa tak sesukses kawan-kawan lain sampai memilih menyingkir. Ikatanmu yang selama ini terus baik-baik saja dengan orang tua juga bisa meruncing saat mereka menganggap pekerjaanmu kurang memberikan jaminan finansial.
Ketika kamu mulai berkutat dengan gaji yang terbatas dan kebutuhan hidup yang makin meroket harganya, barulah kamu menyadari bahwa mau tak mau uang tetap penting dimiliki. Memang benar, uang bukanlah segalanya. Tapi hidup tanpa memiliki penghasilan yang pasti juga tak bisa membuat kebahagiaanmu pasti.


8. Kamu Akan Kehilangan Teman. Tapi Toh Hidup Terus Berjalan



Terkadang kamu kaget saat menyadari betapa lingkaran pertemananmu makin menyempit dari hari ke hari. Dulu, kamu adalah orang yang tidak pernah kesepian. Kemanapun pergi, selalu ada kawan yang bisa diajak mendampingi. Namun kini, hanya beberapa gelintir teman yang tetap bertahan dalam hidupmu. Mereka adalah orang-orang yang tetap terhubung walau dipisahkan kesibukan sehari-hari.
Tidak banyak orang mau berbagi bahwa kehilangan pertemanan adalah sebuah hal yang wajar dalam perjalanan hidup. Tidak semua ikatan pertemanan bisa bertahan selamanya. Hidupmu bukan sebuah lapangan bola yang bisa menampung ratusan orang di saat bersamaan. Terkadang, beberapa orang memang harus pergi agar kawan-kawan sejati bisa  masuk ke dalam hidupmu yang makin sempit ini.


9. Jarang yang Mau Mengaku Bahwa Mereka Menikah Karena Sudah Malas Mencari. Bukan Karena Merasa Sudah Saatnya Berhenti



Di usia 25 hidupmu mulai kelihatan arahnya. Akan berkecimpung di bidang pekerjaan apa, bergiat dalam kegiatan macam apa, hingga mengerucut ke tipe pasangan yang cocok mendampingi dalam hari-hari. Pada usia ini, kamu sejujurnya sudah enggan mencari. Lebih baik menjalani dan mempertahankan sesuatu yang sudah pasti.
Jika sudah menemukan seseorang yang dirasa tepat mendampingi — dia yang bisa selalu ada dan diandalkan dalam naik dan turunnya hidup ini — kamu sudah enggan mencari lagi. Lebih baik berhenti sekarang, dibandingkan dia yang baik ini lepas dari genggaman.


10. Bagimu yang Baru Menyelesaikan Satu Episode Sakit Hati, Butuh Waktu Lama Untuk Memulai Lagi



Semasa remaja kamu bisa move on dalam sekejap mata. Putus hari ini, bulan depan sudah siap punya pacar baru lagi. Tapi semakin dewasa, membuka hati sudah tidak lagi terasa sama mudahnya. Di umurmu yang seperempat abad nanti, hatimu seakan dilapisi oleh beberapa pintu pengaman yang terkunci rapat. Tidak mudah membukanya kembali selepas tersakiti.
Patah hati di usia ini bukan lagi perkara tidak punya teman nonton atau tidak punya teman SMS-an mesra. Kehilangan pasangan rasanya tidak jauh beda dari kehilangan sahabat seperjuangan, membuat limbung dan kehilangan pegangan. Butuh waktu sampai kamu bisa memulai lagi. Hatimu perlu jeda cukup lama sampai ia siap diisi kembali.


11. Pertimbanganmu Mencari Pasangan Pun Berganti. Bukan Lagi Soal Cantik Atau Tampan. Tapi Lebih Ke Perhitungan Rasional



Mencari pasangan di usia 25 tidak sesederhana tertarik secara fisik, nyambung diajak ngobrol, oke jadian! Di usia ini kamu bisa jadi manusia ribet yang mempertimbangkan banyak aspek, bahkan sebelum sebuah hubungan dimulai.
  • Apa pekerjaannya? Bisakah diajak membangun hidup bersama
  • Bagaimana keluarganya, mampukah membaur dengan keluargamu?
  • Dia bisa mengurus anak kecil atau tidak? Atau malah sangat egois?
  • Perlukah kamu menyesuaikan diri terlalu banyak dengan lingkaran perkawanannya?
Kamu akan mempertanyakan pada diri sendiri, “Matre-kah aku? Berlebihankah pertimbanganku” — namun kemudian sepakat bahwa semua itu kamu lakukan demi kebaikanmu.


12. Bagi Beberapa Orang Umur 25 Berarti Siap Menikah. Bagi Sebagian Lainnya Umur Ini Hanya Pondasi Awal Untuk Lebih Siap Melangkah



25 dan pernikahan memang dekat. Di umur ini kamu akan mendapat banyak undangan dari teman-teman sejawat yang bergegas meresmikan hubungan. Kamu pun bisa jadi salah satu di antaranya. Tapi ada juga yang merasa 25 bukanlah umur sakral bagi sebuah komitmen serius. Mereka yang masih mengejar karir, ingin fokus melanjutkan sekolah, sampai mereka yang masih enggan membuka hati bagi cinta yang baru.
Umur ini tidaklah sesakral bayanganmu beberapa tahun lalu jika dihubungkan dengan urusan cinta pun komitmen. Tidak ada yang perlu digadang-gadang secara berlebihan. Jalani saja sebaik yang kamu bisa, maka kamu akan tahu hasil akhir yang memang sudah tertakdirkan untukmu.


13. Merdeka Secara Finansial Bukan Berarti Kamu Bebas Menentukan Arah Hidupmu Sendiri



Okay, kamu memang sudah lebih mandiri secara finansial sekarang. Baik karena sudah disokong pasangan, sudah bekerja, atau hidup dari uang beasiswa. Saat remaja, kamu sempat merasa bahwa kebebasan akan kamu dapat saat sudah tidak menggantungkan kehidupan pada orang lain. Apakah sesederhana itu?
Walau sudah lebih mandiri, bukan berarti kamu bebas dari tekanan orang-orang di sekeliling. Pertanyaan macam ini akan tetap menghampirimu,
“Kapan nikah?”
“Kapan punya anak?”
“Gak mau jadi PNS aja? Gak bosan kerja swasta?”
“Kok bajunya gitu? Gak terlalu terbuka tuh?”
Kebebasan itu tidak serta merta datang. Tuntutan dan kukungan justru makin sering datang dari orang-orang yang hanya mengetahuimu selewat kenal. Mengesalkan? Jelas. Tapi tak perlu dimasukkan ke hati, cukup hadapi saja dengan anggukan sopan dan sesungging senyuman ramah.


14. Orang Tua Bisa Menjelma Jadi Musuh yang Paling Kamu Benci. Tapi Pada Mereka Kamu Tetap Ingin Membalas Budi



Umur ini memang unik. Di satu sisi, kamu sudah merasa jadi manusia dewasa yang punya tanggung jawab pada orang tua. Kamu merasa bertanggung jawab membawakan mereka makan malam yang dibeli dengan uang gajimu. Kamu pun sudah mulai tidak enak hati jika terus merepotkan 2 orang yang sudah membesarkanmu selama ini.
Namun pada sisi lain mata uang kamu kerap berseberangan dengan mereka. Kedua orang tua memintamu jadi PNS, sementara kamu sedang asyik menggeluti pekerjaanmu di advertising agency. Ayah dan ibumu menginginkanmu segera menikah, padahal kamu merasa baik-baik saja sendiri. Perbedaan yang kontras ini membuatmu sadar bahwa kamu dan orang tua memang dua entitas yang punya impian berbeda.
Kuncinya adalah bagaimana kamu bisa menyelaraskan pengejaran mimpimu dengan restu dari kedua orang tua. Demi mendapatkan keselarasan ini diperlukan kesabaran, kerja keras, dan kemauan mendengar yang tidak remeh.


15. Sedikit yang Mau Mengaku: Di Usia 25 Tanpa Sadar Kamu Belajar Menyembunyikan Lukamu



Dahulu, kesedihan dan kepahitan hidup selalu bisa dibagi. Bisa cerita ke teman, disuarakan lewat media sosial, sampai dengan ringan disampaikan lewat curahan hati ke orang-orang terdekat. Rasanya dunia perlu tahu semua yang kamu rasakan. Berbagi dengan orang lain, bahkan pada yang tak dikenal, dianggap bisa meringankan beban.
Kebiasaan macam ini tidak bertahan lama. Seiring waktu, kamu sadar bahwa kamu berubah. Semua masalah kini lebih baik kamu simpan sendiri. Bercerita pada mereka yang paling dekat pun hanya 1-2 orang saja. Tidak semua sisi dari dirimu bisa dibagi pada dunia. Di usia ini, kamu belajar menyembunyikan luka. Belajar terlihat kuat dan baik-baik saja, padahal di dalam hati ada lubang menganga.


16. Belajar Menerima Kesalahan dan Memaafkan Diri Sendiri Jadi Perjuangan Terberat Di Usia Ini



Kamu pernah memilih menitipkan hati pada orang yang salah. Kamu pernah mengambil keputusan yang meninggalkan luka menganga di hati orang-orang terdekatmu. Sadar pernah keliru, kamu pun menyadari harus segera berubah jadi orang baru yang jauh lebih baik dari versi sebelummu.
Proses berubah ternyata tidak sesulit menerima kesalahanmu yang telah lalu. Dalam usia ini, perjuangan terberat ternyata datang dari usaha memaafkan diri sendiri. Akan ada titik di mana kamu merasa benci pada diri sendiri, mengutuk kebodohan yang sudah kamu lakukan selama ini, terus-terusan menyalahkan diri sendiri.
Butuh proses panjang hingga titik iklas dan menerima bisa teraih dalam genggaman. Butuh keberanian dan kebesaran hati demi memaafkan kebrengsekanmu yang sudah lewat. Namun ketika ini berhasil dilakukan, penghargaan dan rasa cinta pada diri sendiri akan makin kamu rasakan.


17. Saat Tidak Semua Rencana Bisa Berjalan dan Tak Semua Pencapaian Bisa Teraih Tangan — Menjalani Apa yang Ada Jadi Satu-Satunya Pilihan



Rencana dan peta hidup yang sudah kamu buat dengan rapi di masa remaja belum tentu sepenuhnya bisa diwujudkan. Impian yang digadang-gadang mampu teraih pun belum tentu bisa tergenggam tangan. Kamu bisa jadi manusia keras kepala yang terus berkutat di kegagalan sembari menyalahkan keadaan, atau dengan tegas memilih tak hirau pada masa lalu untuk kemudian melanjutkan perjalanan.
Ternyata 25 bukanlah umur ajaib yang jadi penanda tercapainya segala keinginan. Kamu masih tetap harus berjuang. Kamu masih tetap perlu berdoa kuat-kuat supaya impian terasa makin dekat. Menjadi 25 adalah proses tumbuh sebagai manusia dewasa. Seseorang yang dengan besar hati bisa terus melanjutkan perjuangan — walau tidak semua hal yang diinginkan bisa didapatkan dengan mudah.
Sebab kadang, terus berjalan jauh lebih baik daripada menyerah pada keadaaan.

Selamat berproses menjadi 25 bagimu yang sedang menuju ke sana. Selamat menjalani 25 tahun sebaik mungkin untukmu yang sedang berada di usia ini. Menjadi 25 ternyata tidak sesederhana yang kamu kira ‘kan?

Sumber